Postingan

US’ TRAINING AID TO BAKAMLA: HOW FAR CAN IT GO?

Gambar
The US has finally delivered on its commitment to fully support Indonesia’s Maritime Security Board or Badan Keamanan Laut (Bakamla). In a recent virtual ceremony, the US Ambassador to Indonesia Sung Kim officiated the construction of Bakamla campus in Batam Island and committed to spend US$3.5 million. It will be furnished with classrooms, barracks, and launching pad. The project was initiated by former head of Bakamla Vice Admiral Achmad Taufiqoerrochman in 2019. At that time, he proposed the training center to be developed in Serang, Banten province; but his replacement, Vice Admiral Aan Kurnia, moved the campus’ site to the Island. Despite its potential to improve Indonesia’s maritime law condition by educating all-new officers for Bakamla, the Center faces intrinsic problems arising from existing domestic maritime legal architecture in order to meet such a mission. If it fails, the existence of the training institution will be only deepening the country’s multi-actor maritime la...

Setelah MT Horse dan MT Freya Kembali Berlayar

Gambar
  Pengadilan Negeri Batam, Kepulauan Riau, sudah membacakan vonisnya terhadap kapal MT Horse dan MT Freya. Tanker pertama (berbendera Iran), nakhodanya diganjar hukuman satu tahun penjara sementara kapal kedua, MT Freya – berkebangsaan Panama – dijatuhi hukuman denda senilai 2,5 milyar rupiah. Sekilas, kedua putusan PN tersebut baik-baik saja. Namun, bila diselami lebih jauh, ada beberapa catatan kritis yang bisa disajikan. Saat tulisan ini diselesaikan, kedua kapal sudah berlayar meninggalkan perairan Indonesia menuju ke destinasinya masing-masing. Kasus MT Horse dan MT Freya menarik diberikan catatan karena dari sejak awal ditangkap oleh otoritas kemaritiman Indonesia sudah membentot perhatian publik. Khalayak disuguhi berbagai komentar oleh para pejabat penting yang ingin pelanggaran oleh kedua kapal ditindaklanjuti. Bergantian mereka muncul di hadapan publik melalui sejumlah konferensi pers. Inti pesannya sama: negara/pemerintah akan memproses hukum kapal tersebut. Yang menar...

2020, Annus Horribilis Dunia Kemaritiman

Gambar
Annus horribilis adalah frasa Latin yang berarti “tahun yang suram”. Annus berarti tahun, sementara horribilis bermakna horrible , horor, menakutkan, seram atau kata-kata yang senada lainnya. Biasanya, penggalan kalimat ini diantonimkan dengan frasa Latin annus mirabilis yang bermaksud “tahun yang menyenangkan”. Tidak ada kesepakatan di antara para pengguna kedua gabungan kata tersebut perihal situasi seperti apa yang cocok untuk dideskripsikannya. Namun, frasa-frasa tersebut lazimnya dipakai untuk menggambarkan perjalanan yang telah ditempuh oleh organisasi, lembaga, bahkan manusia sekalipun, selama setahun ke belakang. Bila perjalanan itu menyenangkan, diucapkanlah annus mirabilis . Sebaliknya, annus horribilis akan terlontar jika dirasakan perjalanan selama setahun itu berat, melelahkan dan seterusnya. Bagi dunia kemaritiman, tahun 2020 merupakan annus horibilis . Organisasi, lembaga dan person /orang yang bergelut di bidang ini menjalani tahun ini dengan tersengal-sengal, ma...

Percik Smart Port di Indonesia

Gambar
United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) dalam publikasi tahunannya, Review of Maritime Transport 2019, mencatat bahwa digitalisasi dan otomatisasi tengah mentransformasi sektor pelayaran global. Sehingga, dibutuhkan keterampilan dan pendekatan baru bagi para pelaku dan pemangku kepentingan agar bisa berselancar dengan sukses di tengah gelombang transformasi yang tengah pasang naik. Dengan digitalisasi dan otomatisasi, memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Thing (IoT), kapal-kapal kini sudah bisa dioperasikan tanpa awak. Sejauh ini, autonomous ship , begitu istilah dalam khazanah pelayaran untuk kapal tanpa awak itu, memang baru sebatas diujicobakan. Namun, dapat dipastikan tak lama lagi “kapal cerdas” tersebut bisa melayari samudra luas di delapan penjuru mata angin. Karakter state of the art tidak hanya dimiliki autonomous ship yang merupakan kapal masa depan. Kapal-kapal lain, khususnya yang dibangun dalam kurun 10-15 tahun bela...

New Normal, Lonceng Kematian Usaha Kapal Penumpang?

Gambar
Dunia sebetulnya masih tengah bertempur dengan pandemi Covid-19 dan  tidak tahu kapan pertempuran ini akan berakhir. Menariknya, sejak pertempuran global melawan wabah mematikan itu dikumandangkan pada awal tahun ini, gagasan new normal telah muncul. Sepertinya, dunia sudah tahu bahwa ia tidak akan pernah berhasil menumpas hingga tuntas penyakit yang satu itu. New normal kini bukan lagi sekadar wacana. Negara-negara sudah mulai menyiapkan protokol bagi seluruh sek tor kehidupa n agar bisa hidup berdampingan dengan Covid-19. Bidang kemaritiman juga bersiap menyambut new normal . Sektor pelabuhan, pelayaran, logistik dan lain-lain dikabarkan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk itu. Mengingat kalangan top pemerintahan, mulai dari Presiden, Menteri hingga Kepala Daerah, sudah menyebut-nyebut frasa new normal belakangan ini, bagi sektor tersebut nampaknya normal baru akan segera dijalankan tak lama lagi. Salah satu normal baru yang akan digeber pada sektor pelabuhan, pe...

Terhempas Ombak Covid-19

Gambar
Wabah virus corona betul-betul memukul bisnis pelayaran. Hampir seluruh elemen yang ada pada sektor ini terkena dampaknya. Hanya saja level kerusakannya berbeda-beda. Dimulai dengan pelayaran bahan bakar minyak (BBM) alias tanker. Bisnis yang satu ini kondisinya tidak separah sektor pelayaran lainnya alias masih bisa bernafaslah. Bukankah dengan adanya virus corona pabrik-pabrik banyak tutup yang pada gilirannya mengurangi konsumsi BBM? Konsumsi turun, pasti turun pula shipment BBM. Di mana untungnya? Di atas kertas, bisnis tanker harusnya megap-megap seperti saudara lainnya sesektor.  Namun, ada blessing in disguise di tengah pandemi corona bagi bisnis ini. Memang benar pabrik-pabrik banyak yang ditutup sehingga permintaan BBM anjlok. Sekadar catatan, ketika wabah corona pertama kali merebak di Wuhan, Provinsi Hubei, China, akhir 2019, tak lama kemudian seluruh sektor industri di n egeri Panda itu perlahan tapi pasti terpukul dan bergerak sempoyongan akibat tenaga kerja...

Omnibus Law Bill: Supportive or Destructive for Indonesia’s Maritime Sector?

Gambar
            The Indonesian government recently launched an omnibus law bill, one objective of which is to create more job in the maritime sector. President Joko Widodo is expected to amend a bunch of sections in the existing Shipping Law No. 17/2008. Apparently, Indonesia was inspired by Philippines, the first country among the ASEAN countries to implement the revised codicils. However, many domestic maritime stakeholders consider that the changes will in fact be regressive for the sector rather than empowering it. They point to the Global Maritime Fulcrum (GMF) that was instituted during Jokowi’s first term in office, and proved to be quite detrimental. The GMF was hailed as a breakthrough nationally and globally, given that Indonesia is blessed with an abundant maritime domain. This should logically provide it a competitive advantage in maritime sectors like shipping and port business; it was thus accorded a high priority in government programs. ...