Obituari David Sirait: Sempat Salah Duga Dengan David P.
Perjumpaan saya dengan Almarhum David Pandopotan Sirait tak pernah langsung, selalunya melalui aplikasi perpesanan. Juga, lewat media sosial: Instagram dan Linkedin. Isinya kebanyakan hanya say hello. Singkat cerita, antara saya dan beliau ada jarak. Kemarin, 24/10, ramai grup WA yang mengabarkan kepergiannya untuk selama-lamanya. Semuanya terkejut, termasuk saya, tidak menyangka bahwa yang bersangkutan sugeng tindak. Ia meninggal usai bermain basket. Bukan sekadar permainan mencari keringat; melainkan turnamen antarinsan pelabuhan bertempat di GOR Kuningan, Jakarta Selatan. Even cukup serius. Selain bermain basket David juga bermain golf. Jadi, dia terhitung fit untuk pria di atas 50 tahun dan bolehlah digelari olahragawan.
David akan berulang tahun ke-55 hari ini namun takdir
membuat hari istimewa ini tidak bisa lagi dirayakan bersama keluarga tercinta
dan handai tolan. Kehilangannya tidak hanya dirasakan oleh keluarga besarnya
tetapi juga oleh industri kepelabuhan nasional. Pada titik ini saya dan David
tak berjarak karena kami sama-sama ada dalam usaha tersebut. Bedanya, dia
berada di dalamnya sebagai profesional sementara saya menggelutinya sebagai
orang luar. Awalnya sebagai kuli tinta, kini sebagai pengamat. Alumni
Universitas Trisakti itu berkarir di bidang pelabuhan saat direkrut oleh
Terminal Peti Kemas Jakarta International Container Terminal (JICT) yang
merupakan anak usaha Pelindo II dan Hutchison, Hong Kong. Sekarang Pelindo II sudah
lebur ke dalam Grup Pelindo Indonesia bersama Pelindo I, III dan Pelindo IV.
David pernah pula singgah di IPC TPK sebagai direktur utama
sebelum menduduki posisi direktur utama Terminal Teluk Lamong, Jawa Timur.
Almarhum memang sangat menguasai operasional terminal peti kemas dan menjadi
orang pilihannya mantan direktur utama Grup Pelindo untuk urusan terminal
kontainer. Kabarnya, dia masuk bursa calon dirut JICT tahun ini. Ia tidak bisa
lagi melanjutkan proses menjadi pucuk pimpinan terminal peti kemas terbesar di
Indonesia itu karena Tuhan lebih menyayanginya.
Suatu ketika, ada missed call di HP saya dari David.
Tanpa berpikir panjang langsung saya telepon balik. Di ujung sambungan David sepertinya
terkejut menerima telepon saya. Maklumlah kami tidak pernah bicara di telepon,
hanya kirim pesan saja. “Nanti saya telepon balik ya, bro.” ujarnya. Saya pun
menutup sambungan telepon sambil berpikir keras: kok?! Penasaran, saya
periksa dengan saksama nomor telepon David yang luput dijawab tadi. Owalah,
rupanya yang missed call bukan David Pandapotan Sirait melainkan David
Pardede. Pantas saja dia terdengar bingung di seberang jalur. David Pardede
merupakan seorang perwira menengah AD teman yang bertugas di seputaran
Kalibata, Jakarta Timur. Sama-sama David.
Jujur saja, saya menanti telepon dari David Sirait sampai
saat ini. Kalaupun saya menerima kabar darinya, itu adalah berita wafatnya.
Selamat jalan, lae. Akan kutunggu terus telepon darimu…

Komentar
Posting Komentar